Swords Of Resistance: Endless War

Bab 85, Kembalinya Sang Raja



Bab 85, Kembalinya Sang Raja

2

Ratusan orang Berlin tengah duduk berkumpul di halaman Schloss Bellevue untuk menghadiri acara pelantikan Stadtholder Nikolaus sebagai Pemimpin Prussia menggantikan Stadtholder Otto Leonard yang wafat 14 bulan yang lalu karena penyakit jantung.

Seharusnya Letnan Jenderal Nikolaus dilantik sebagai Stadtholder dua bulan yang lalu yang merupakan satu tahun pasca wafatnya Stadtholder Otto Leonard. Hanya saja, dia merasa tidak cocok jika hari pelantikannya masih dekat dengan hari kematian Stadtholder Otto Leonard. Maka dari itu, dipililah tanggal 15 Agustus 6548 sebagai hari pelantikannya.

Tidak seperti pelantikan Stadtholder sebelumnya. Pelantikan Stadtholder Nikolaus dilakukan di tempat yang terbuka, yaitu di halaman Schloss Bellevue.

Di antara kursi-kursi yang tersusun rapih. Hanya ada sembilan kursi yang berada di barisan depan. Kesembilan kursi tersebut diduduki oleh Puteri Catherine Olga Mikhailovna von Holstein-Gottorp-Romanov yang merupakan ibu dari Stadtholder Nikolaus, lalu di sebelahnya adalah Pangeran Mikail Karol Hubertus Ludwig Peter Ferdinand von Hohenzollern yang merupakan ayah dari Stadtholder Nikolaus. Di sebelah Pangeran Hubertus duduk seorang perempuan tua yang bernama Eleanora Spisak Raczkowski yang merupakan gurunya waktu masih gymnasium. Di sebelah Eleanora Spisak adalah Puteri Elizabeth Juliana Fredericka Victoria von Battenberg yang merupakan istri dari Stadtholder Nikolaus. Di samping Puteri Juliana, adalah Puteri Adelheid Charlotte Rosaline Wilhelmina von Oranien-Nassau dan suaminya, yaitu Marsekal Madya Karl Ludwig Bauer. Di samping Marsekal Madya Karl Ludwig adalah Letnan Jenderal Louis Philip Pierre Levasseur yang merupakan Kepala Polisi Militer Prussia. Di samping Letnan Jenderal Pierre adalah Kanselir Frederick Joseph Ludwig Sigismund Leopold Wilhelm von Oranien-Nassau dan istrinya, Franceque Claude Elizabeth Malherbe.

Stadtholder Nikolaus berjalan menuju ke mimbarnya yang terletak di depan pintu masuk Schloss Bellevue sambil melambaikan tangannya untuk menyapa para hadirin. Sang Stadtholder terlihat begitu gagah dengan seragam militer yang berwarna hitam dan beberapa lencana yang menghiasi seragam militernya.

Dia berdiri di atas mimbarnya dan memulai pidato kenegaraannya.

"Hadirin yang mulia. Orang-orang hebat yang ada di seluruh Prussia yang unggul di bidangnya masing-masing. Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita bisa berkumpul di sini. Aku juga ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang begitu besar kepasa seluruh Rakyat Prussia atas kepercayaannya kepada diriku sebagai Stadtholder untuk meneruskan cita-cita dari Yang Mulia Stadtholder Otto Leonard. Aku juga ingin sampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuaku yang telah melahirkanku, mendidik, mebesarkan, dan bersikap sabar atas segala sikap berandalanku ketika masih remaja." Stadtholder Nikolaus terdiam selama beberapa detik. Sepasang mata merahnya mendadak berlinang air mata ketika menatap mata biru Frau Eleanora Spisak. Sehingga dia melepas sarung tangan kanannya dan mengelap air mata yang membasahi kedua mata merahnya. "Aku juga berterimakasih kepada Frau Eleanora yang telah mengajariku beberapa hal dengan begitu sabarnya dan mendidik diriku beserta teman-teman seangkatanku. Terima kasih banyak atas didikanmu, Frau Eleanor. Sehingga seorang berandalan sepertiku bisa menjadi seorang Stadtholder. Kau adalah guru terhebat dan terbaik yang pernah ada."

Orang-orang bertepuk tangan dengan begitu kerasnya mengapresiasi pidato sang Stadtholder. Sementara Frau Eleanora terharu bahagia mendengar pujian dari muridnya di hadapan miliaran pasang mata di seluruh dunia. Dia tersenyum dengan mata yang berlinang air mata sambil menatap Stadtholder Nikolaus.

Di hadapan miliaran pasang mata, secara tidak sadar Stadtholder Nikolaus menunjukkan sisi lainnya. Di mana dia menangis terharu karena gurunya. Orang-orang tidak menyangka bahwa Stadthlder Nikolaus yang masa remajanya dikenal sebagai berandalan yang sering berkelahi dan bergulat, bisa menangis terharu.

"Aku juga berterima kasih kepada istriku, Juliana, dan seluruh saudara-saudara sedarahku juga kepada Adelheid, Karel, Pierre, Leopold, dan Elizabeth yang merupakan sahabat terbaikku."

Orang-orang kembali bertepuk tangan dengan begitu meriahnya.

"Kita telah memasuki era baru dan kita harus siap atas segala hal-hal baru yang akan muncul secara tiba-tiba. Kita harus berjuang untuk melanjutkan cita-cita mulia dari para Ksatria yang mendirikan negara kita."

.

.

Setelah menyampaikan pidato pelantikannya. Stadtholder Nikolaus berkumpul dengan orang-orang yang merupakan keluarga serta sahabatnya di halaman belakang Schloss Bellevue.

Margareth tersenyum jahil menatap ayahnya, "Ya, ampun. Ternyata ayahku itu seorang lelaki yang melankolis."

Orang-orang di sana tertawa mendengar komentar dari Margareth. Sementara Stadtholder Nikolaus hanya tersenyum tipis mendengarnya.

Elizabeth Malherbe tertawa keras menatap Stadtholder Nikolaus, "Ternyata kamu cengeng juga, yah, Nikolaus."

"Menangis adalah hal yang wajar. Apalagi menangis bahagia. Di mana para sahabat, keluarga, guru, dan rakyat menonton acara ini," balas Stadtholder Nikolaus dengan begitu santainya.

Puteri Juliana tengah berpura-pura memasang ekspresi wajah sedih sambil memegang selembar kain.

"Aku juga terharu melihatmu, Nikolaus. Aku kira suami-ku ini jagoan yang selalu menang. Ternyata kau bisa menangis dan membuatku sedih," kata Puteri Juliana sambil berpura-pura menangis. "Aku bangga punya suami yang hebat sepertimu, Nikolaus," sambung Juliana menggenggam kedua tangan suaminya sambil memasang ekspresi wajah memelas yang berlinang air mata.

Orang-orang menertawakan kelakuan kocak Puteri Juliana. Sementara Stadtholder Nikolaus hanya tersenyum canggung.

Elizabeth Malherbe datang menghampiri Nikolaus dan menepuk pelan punggungnya.

"Jangan bersedih lagi, sahabatku. Kau terlihat jelek kalau sedang bersedih."

Stadtholder Nikolaus menggerakkan tangan kanannya ke punggungnya dan mengambil sebuah kertas dengan tulisan yang berbunyi, "Orang cengeng."

Elizabeth Malherbe hanya tersenyum canggung setelah aksinya diciduk oleh sang sahabat. Wajahnya memerah menahan malu karena kelakuan usilnya.

Stadtholder Nikolaus menyeringai tipis. Dia segera menggenggam kedua tangan Elizabeth Malherbe. Begitupula dengan Marsekal Madya Karl Ludwig Bauer yang segera menggenggam kedua kaki sahabat perempuannya.

"Apa-apaan kalian berdua, idiot!" teriak Elizabeth Malherbe.

Stadtholder Nikolaus dan Marsekal Madya Karl Ludwig membawa Elizabeth Malherbe. Sementara Elizabeth Malherbe hanya bisa berteriak dan meronta-ronta.

"Lepaskan aku, idiot!" gertak Elizabeth Malherbe. "Tolong aku mau diperkosa!" sambungnya dengan teriakan yang nyaring.

Kelakuan ketiga orang dewasa itu menjadi perhatian para tamu yang hadir di Schloss Bellevue. Di mana kata-kata kasar yang diteriakkan oleh Elizabeth dan aksi konyol dari Stadtholder Nikolaus dan Marsekal Madya Karl Ludwig menarik perhtian para tamu yang hadir.

Charla hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan konyol dari ibunya dan kedua sahabatnya, yang menurutnya tidak mencerminkan sikap orang dewasa.

"Ya ampun. Mereka bertiga seperti anak-anak saja," kata Charla.

"Biarkan saja mereka berbahagia. Mengingat mereka ingin nostalgia," kata Kanselir Leopold angkat bicara.

"Kau tidak ikut campur, Ayah," kata Athena menatap ayahnya.

"Mereka adalah teman satu sekolah dan satu kelas. Biarkan mereka bernostalgia dengan kekonyolan mereka," balas Kanselir Leopold dengan santainya.

"Kenapa kau tidak marah ketika istrimu diperlakukan seperti itu?" tanya Simone yang sambil menggendong Louis.

"Mereka bertiga hanya ingin mengenang masa remaja mereka," jawab Kanselir Leopold.

"Ternyata kau memang pecundang, yah, Leopold," kata Simone dengan senyuman yang mengejek. Simone mengelus kepala si kecil Louis. "Louis, kalau kau sudah besar. Jangan jadi pecundang seperti ayahmu. Jadilah orang yang hebat seperti Elizabeth," sindir Simone.

Charla dan Athena tertawa keras mendengar sindiran yang cukup pedas kepada ayah mereka. Charla menyikut pelan dada ayahnya. Dia menyeringai lebar mengejek ayahnya, "Bagaimana rasanya, ayah? Mendapat sindiran yang cukup keras."

"Biasa saja," balas Kanselir Leopold singkat.

Stadtholder Nikolaus dan Marsekal Madya Karl Ludwig melempar tubuh Elizabeth Malherbe ke dalam sebuah kolam ikan yang berisi belasan ikan koi. Tubuh Elizabeth Malherbe basah kuyub dan dia menjadi perhatian serta ditertawakan oleh banyak orang.

Stadtholder Nikolaus tertawa keras sambil menunjuk Elizabeth Malherbe.

"Kau cocok menjadi seorang mermaid, Eliz," kata Marsekal Madya Karl Ludwig tertawa mengejek sahabatnya.

Elizabeth mengambil kedua sepatunya dan segera melemparnya ke arah wajah Marsekal Madya Karl Ludwig dan Stadtholder Nikolaus. Kedua lelaki itu berhasil menghindari sepasang sepatu yang melayang ke arahnya.

Kanselir Leopold berjalan dan memasuki kolam ikan tersebut. Dia segera menggendong istrinya yang basah kuyub. Wajah Elizabeth terlihat begitu memerah diperlakukan dengan begitu romantisnya. Walaupun sebenarnya hal tersebut merupakan hal yang biasa saja.

Kanselir Leopold segera memberikan ciuman kepada Elizabeth dan aksi tersebut mendapat tepuk tangan yang keras dari banyak orang.

Charla tengah mengecek berita ekonomi dari pc tabletnya. Pasca dilantiknya Pangeran Nikolaus sebagai Stadtholder Prussia. Harga saham dari Hessian Corporation mengalami kenaikan.

Hessian Corporation yang merupakan sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang IT yang didirikan oleh Puteri Elizabeth Juliana Fredericka Victoria von Battenberg, Puteri Elizabeth Alix Maria von Hesse-Darmstadt, Pangeran Karl Ludwig Wilhelm Alexander von Hesse-Darmstadt, dan Pangeran Karl Franz Heinrich von Hesse-Kassel.

Perusahaan ini memiliki banyak layanan yang berada di bawah naungannya. Mulai dari mesin pencari, media sosial, toko online, game, berits, hingga di bidang pendidikan.

Awalnya Hessian Corporation hanya bergerak di bidang game dan pendidikan. Dengan koneksi serta kekuatan politik yang dimiliki keempat Bangsawan Hessia tersebut dan kedekatan mereka dengan Kerajaan Inggris. Sehingga membuat Hessian Corporation berkembang menjadi salah satu Perusahaan IT terbesar di planet bumi.

1

"Sepertinya Puteri Juliana dan ketiga saudaranya sedang panen raya hari ini. Mengingat harga saham Hessian Corporation naik drastis pasca dilantiknya Paman Nikolaus sebagai Stadtholder Prussia," kata Charla yang tengah menatap pc tabletnya yang menunjukkan kenaikan harga saham dari Hessian Corporation.

"Perempuan itu memang memiliki ambisi yang besar. Nikolaus dan Juliana merupakan pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Selain itu, keempat Bangsawan Hessia itu seperti dua Pangeran dan dua Puteri dalam kisah Narnia," kata Simone.

"Memang Bibi Juliana itu suka membaca novel Narnia. Selain itu, baik di Kantor Pusat Hessian Corporation yang ada di London dan Potsdam. Di sana terpajang lukisan dua Pangeran dan dua Puteri Narnia pada aula depannya. Lukisan tersebut dilukis oleh Pangeran Karl Franz yang sama-sama menyukai serial novel Narnia," kata Athena ikut berkomentar.

"Anak-anak Bangsawan yang memiliki imajinasi dan inovasi yang hebat. Ditambah orang tua mereka sangatlah dekat dengan Raja Inggris dan memiliki koneksi politik yang luas," kata Charla berkomentar.

"Kita juga seperti mereka berempat. Mengingat ayah kita adalah Kanselir dan juga kita adalah keponakan jauh dari Stadtholder beserta pendiri Hessian Corporation," timpal Athena. 

Charla tersenyum tipis setelah mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh adik tirinya, "Kau benar, Athena. Itulah sebabnya aku merasa bersyukur sekali memiliki seorang ayah yang menjabat sebagai Kanselir, Pangeran sekaligus Jenderal. Mengingat kita memiliki keistimewaan jika dibandingkan dengan orang-orang yang terlahir dari kalangan biasa."

"Yah, karena kalian memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh mayoritas orang. Kalian harus menolong banyak orang-orang yang nasibnya tidak beruntung," kata Simone menasehati kedua anaknya akan keistimewaan yang mereka berdua miliki.

"Tentu saja kami akan melakukannya," balas Charla.

"Kebetulan ada posisi kosong. Aku ingin kau bekerja di perusahaanku, Charla. Mengingat aku sudah menghubungi atasanmu dan dia ikhlas kau bekerja di Hessian Corporation. Walaupun kau juga seorang 'Content Creator.' Aku ingin orang kreatif seperti dirimu bekerja di Hessian," kata Puteri Juliana yang menguping pembicaraan mereka.

"Baiklah, aku terima tawaran kerjamu, Nyonya-" perkataan Charla terhenti ketika Puteri Juliana memukul pelan kepala Charla dengan kipasnya.

"Aku ini bibimu, bocah Elizabeth bertato. Jadi tidak perlu seformal itu," kata Puteri Juliana menatap keponakannya.

"Maafkan aku, bibi Juliana," kata Charla.

"Karena keahlianmu adalah di bidang perangkat keras dan jaringan. Aku ingin kau bekerja sebagai teknisi di Server Pusat kami di Potsdam."

"Baiklah, bibi. Aku siap bekerja. Kebetulan aku baru menganggur selama dua hari."

Puteri Juliana segera merangkul Charla dan mengelus-elus kepalanya.

"Ini baru keponakanku."


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.