You Are Mine, Viona : The Revenge

Membangunkan pasukan



Membangunkan pasukan

Seperti yang sudah-sudah jika Fernando turun tangan maka semua masalah akan selesai dengan cepat dan rapi, begitu pula dengan foto-foto Abby dan Natalie yang sudah terlanjur tersebar. Tak ada satu pun jejak yang dapat di akses pengguna internet lainnya, bahkan beberapa portal berita yang sudah terlanjur menerbitkan artikel yang berhubungan dengan foto-foto itu akhirnya merilis permintaan maaf kepada keluarga Willan secara resmi di halaman utama portal berita mereka.         

    

Aaric yang seharian ini sangat sibuk dengan semua pekerjaannya tak tahu menahu dengan apa yang sudah terjadi, begitu juga dengan Loren dan Bruce serta kedua asisten Abby yang menggantikan tugas Abby.     

"Sepertinya kalian sangat sibuk sekali, apakah aku boleh masuk?" Suara profesor Frank terdengar dengan jelas dari balik pintu yang sudah terbuka.     

Aaric yang sedang fokus pada tabletnya langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum pada sang paman yang sedang berdiri dengan seragam kebesarannya yang sudah ia sandarkan ditangan. "Sure, masuklah uncle."     

"Tapi kalian terlihat sangat sibuk sekali, apa benar-benar tidak apa-apa kalau aku mengganggu sebentar?"     

Aaric terkekeh. "Kalau ada masalah pada pekerjaanku maka aku akan mengatakan kalau ada penggangu yang sudah mengacaukan pekerjaanku."     

"Kejam sekali, kau benar-benar anak si brengsek itu."     

Tawa Aaric semakin keras mendengar ucapan sang paman, ia senang sekali melihat ekspresi wajah sang paman yang terlihat kesal apalagi saat mendengar pamannya menghina sang ayah. Rasanya menyenangkan sekali melihat pertengkaran sang ayah dan adiknya.     

"Kalau Daddy brengsek itu artinya uncle juga brengsek, bukankah itu hukum karma seorang Willan?     

"Ck, kau ini pintar sekali bicara sama seperti ayahmu. Kenapa kau tidak mirip ibumu yang baik hati itu saja si?"     

Abby kembali tertawa terbahak-bahak. "Ayolah uncle jangan terus menggodaku terus menerus, sakit perutku karenamu."     

Profesor Frank menipiskan bibirnya, ia kemudian meraih salah satu kertas yang ada disamping laptop Aaric dan membacanya sebentar sebelum akhirnya meletakkannya kembali ditempatnya.     

"Ternyata pilihanku puluhan tahun lalu untuk menjadi seorang dokter tepat,"ucapnya pelan menyindir keponakannya yang tengah disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk.     

"Aku sebenarnya ingin menjadi dokter tapi uncle tahu bukan bagaimana marahnya Daddy pada saat ulang tahun kami kesepuluh saat itu?"     

Profesor Frank terkekeh. "Iya aku tahu, Ayahmu yang diktator itu memang menyebalkan. Berani-beraninya ia menentang cita-cita anaknya, untung saja Deniseku patuh padaku. Bayangkan saja jika ia disibukkan dengan kertas-kertas menumpuk seperti ini, arrgghhh aku tak bisa membayangkan akan sekurus apa putri cantikku itu."     

"Tidak uncle, aku juga tak bisa membayangkan jika harus mengurus bayi besar di kantor ini."     

Satu alis profesor Frank terangkat. "Bayi besar?"     

"Iya, Denise yang manja itu pasti akan sangat sulit sekali diurus jika harus bekerja seperti kami. sepertinya keputusan uncle dan aunty memaksanya masuk kedokteran tepat,"jawab Aaric dengan cepat tanpa rasa bersalah.     

Profesor Frank tersenyum lebar saat menyadari kebenaran ucapan sang keponakan, ia sendiri saja tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada perusahaan jika putri kesayangannya itu menjadi salah satu direktur seperti Abby dan Aaric.     

"Sudahlah jangan bahas itu, tujuanku datang ke kantor bukan untuk membahas itu. Ada hal lain yang ingin aku bahas denganmu,"ucap profesor Frank serius.     

"Hal apa uncle?"     

Profesor Frank menyerahkan ponselnya pada Aaric. "Natalie, calon istri kakakmu itu siapa sebenarnya?"     

Aaric yang masih tak mengerti dengan maksud pertanyaan sang paman nampak semakin bingung saat melihat foto kakak kembarnya yang sedang berciuman dengan calon istrinya ditunjukkan padanya.     

Menyadari kebingungan Aaric, profesor Frank menghela nafas panjang. "Foto itu aku dapatkan beberapa jam yang lalu di internet, tapi saat ini foto-foto mereka sudah tidak bisa diakses lagi. Bahkan beberapa portal berita malah mengungah sebuah permintaan maaf pada kita."     

"Tunggu, tolong bicara pelan-pelan, uncle. Aku sama sekali tak mengerti dengan ucapanmu."     

Profesor Frank menarik nafas panjang, setelah itu ia pun menceritakan kekacauan yang sempat terjadi beberapa saat yang lalu. Bahkan ia juga menceritakan kondisi dirumah sakit yang ikut heboh akan permintaan maaf portal-portal berita itu pada keluarga Willan.         

    

"Hanya ayahmu yang bisa melakukan hal semacam ini, ia punya kekuatan penuh untuk mengatur media massa di negara ini. Aku tak masalah dengan itu, hanya saja masih ada satu pertanyaan besar yang terus menggangguku sejak tadi,"ucap profesor Frank pelan menutup penjelasannya.     

"Pertanyaan besar apa?"     

Profesor Frank kembali menatap Aaric dengan tajam. "Siapa gadis itu? Apa latar belakangnya? Fernando tak akan mungkin melakukan hal semacam ini jika tidak ada hal besar yang coba ia lindungi."     

Aaric menyipitkan matanya, ia kini mulai paham dengan apa yang terjadi. Mulai dari foto yang lenyap dari internet serta permintaan maaf pada keluarganya, perlahan ia memberikan kode pada Loren dan Bruce untuk memastikan tak ada siapa-siapa dibalik pintu ruangannya. Setelah mendapatkan kode dari Loren kalau semuanya aman Aaric pun mulai mengatakan identitas Natalie yang sebenarnya pada sang paman, saat Aaric mengatakan siapa Natalie yang sebenarnya profesor Frank nampak tidak terlalu terkejut.     

"Dugaanku ternyata tepat, calon istri Abby bukanlah orang biasa,"ucap profesor Frank pelan. "Tak heran jika Fernando sampai turun tangan seperti itu."     

"Dan saat ini keluarga Oliveira masih belum diketahui keberadaannya, maksudku ayah Natalie si Ruben dan kedua anaknya yang mengikuti jejaknya masuk ke dunia hitam,"ucap Aaric lirih     

"Tenanglah untuk hal itu semuanya akan baik-baik saja, selama ayahmu masih bisa mengontrol dengan baik semua anak buahnya kalian akan baik-baik saja. Si brengsek menyebalkan itu adalah seorang pria yang sangat menyayangi keluarganya, ia akan melakukan hal gila untuk melindungi keluarganya. Aku pun juga tak akan tinggal diam,"sahut profesor Frank pelan sambil tersenyum.     

"Uncle, kau..."     

Profesor Frank bangun dari kursinya dan menyentuh pundak Aaric saat sedang berjalan menuju pintu keluar. "Jangan lupa, aku juga seorang Willan. Aku tak mungkin tinggal diam saat mengetahui ada orang yang ingin mengacaukan kedamaian keluargaku."     

Setelah berkata seperti itu profesor Frank pun pergi dari ruangan Aaric karena semua rasa ingin tahunya sudah dijawab dengan baik oleh Aaric. Pada saat sedang berjalan menuju lift profesor Frank mengeluarkan ponsel khususnya dan mulai menghubungi anak buahnya yang selama ini sudah tertidur cukup lama karena tak ada tugas yang ia berikan, saat profesor Frank berjalan menuju lift beberapa staf wanita Endurance Corporation yang belum pernah melihatnya nampak terhipnotis akan wajah tampan profesor Frank yang belum memudar. Gen Willan benar-benar kuat dan tak berbohong, meski garis-garis halus mulai terlihat di beberapa sudut wajah profesor Frank namun aura dan kharismanya tak hilang, sama seperti Fernando Grey Willan yang masih saja mempesona di usianya yang sekarang.     

"Yes, bos. Apa ada tugas untuk kami?"     

"Iya, aku minta kalian untuk membayangi anak buah Fernando melindungi keluarga kami." profesor Frank menjawab dengan tegas pertanyaan yang diberikan salah satu anak buah kepercayaannya.     

Bersambung     


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.