CINTA SEORANG PANGERAN

Muslihat



Muslihat

Putri Reina meringkuk di atas ranjang sambil berurai air mata. punggungnya terasa patah. Untungnya ranjang itu adalah ranjang dengan alas tidur yang kualitas keempukannya sangat terjamin. Hingga punggungnya tidak patah betulan. Pangeran Nizam menatapnya dengan murka. Matanya memerah dengan muka menakutkan. Putri Reina sangat ketakutan. pisau gading itu masih dicekal oleh pangeran Nizam.         

    

"Beraninya Kamu hendak mengambil nyawamu sendiri dihadapanku" Pangeran Nizam mencekal tangan Putri Reina. Putri Reina langsung menangis keras karena ketakutan. Tubuhnya gemetar karena takut. Wajah Pangeran Nizam seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.     

"Ha..hamba takut akan dibunuh oleh Ayahanda. Aa..ampuni Hamba yang mulia, Hamba terpaksa, Yang Mulia tidak memberikan hamba pilihan."     

Mendengar jawaban Putri Reina yang mengatakan bahwa Ia tidak memberikan pilihan membuat Pangeran Nizam tambah murka     

"Kamu pikir, Aku pangeran yang bodoh yang akan membiarkan orang lain membunuh istrinya dengan seenaknya. Walaupun itu ayahnya sendiri." Pangeran Nizam berkata sambil merenggut gaun tidur Putri Reina, lalu melemparnya ke bawah.     

Tubuh Putri Reina seketika terpampang dengan jelas Putri Reina menjerit kaget. dengan refleks Ia mau menutupi payudaranya yang terbuka. Tetapi Pangeran Nizam malah mencekal lengannya. Lalu mengangkat lengan putih itu dan di tekan ke atas samping kepalanya. Tanda bulatan kecil berwarna merah yang diberikan oleh tabib istana terlihat jelas. Tanda kesucian Putri Reina. Pangeran Nizam mendekatkan mukanya ke wajah Putri Reina. Putri Reina menahan nafas dadanya berdegup dengan kencang.     

Matanya seketika terpejam hati kecilnya penuh kebahagiaan. Bibirnya terbuka menanti pangeran Nizam yang akan menciumnya. Tapi kemudian dia malah memekik karena pangeran Nizam ternyata tidak menciumnya, Ia malah menggigit lalu menghisap kulit disekitar tanda itu sampai merah. Rasanya sangat sakit. Tangan Putri Reina refleks menjambak rambut Pangeran Nizam. Tapi tidak lama karena kemudian Pangeran Nizam melepaskan tangan Putri Reina dari kepalanya. Putri Reina terkejut sendiri Ia langsung memohon ampunan karena berani menjambak rambut Pangeran Nizam walaupun tidak sengaja.     

"Ma..maafkan hamba yang Mulia." katanya sambil ketakutan.     

Pangeran Nizam tidak menjawab Ia malah mencekal tangan Putri Reina yang satunya lagi sehingga kini dua tangan Putri Reina terentang ke atas. Tetapi kemudian pangeran Nizam baru menyadari kalau Putri Reina telanjang. Ia melepaskan cekalannya lalu menarik selimut yang tersimpan di ujung ranjang. Dengan sekali gerakan Ia menutupi tubuh telanjang Putri Reina oleh selimut.     

Putri Reina hanya memandang tidak mengerti akan kelakuan suaminya. Pangeran Nizam melepaskan pakaiannya tetapi lalu menutupi nya dengan selimut. Tetapi Ia tidak berani berkata apa-apa Ia hanya menatap ketakutan. Tadi Ia ingin mati tapi sekarang melihat pisau ditangan Pangeran Nizam. Ia malah lebih takut lagi. Bagaimana kalau wajah cantiknya tiba-tiba dirusak oleh Pangeran Nizam.     

Putri Reina lalu menutupi wajahnya oleh kedua tangannya sehingga Ia tidak melihat pangeran Nizam menyingkapkan selimut dibagian dadanya. Pangeran Nizam mendekatkan mulutnya kembali di atas kulit Putri Reina dekat dengan payudaranya yang indah. lalu ia menggigit dan menghisapnya kembali. Putri Reina kembali memekik kesakitan.     

Putri Reina mengerang sambil mengusap-ngusap kulit yang diberikan tanda merah oleh Pangeran Nizam. Ia sama sekali tidak memahami tujuan suaminya, Pangeran Nizam. Ia tambah mengkerut ketika pangeran Nizam mengangkat pisau gading itu lalu Ia menarik salah satu kaki Putri Reina. Putri Reina menatap antara bingung dan takut. Tapi tak lama kemudian Ia menjerit ketika tanpa bekas kasihan Pangeran Nizam menorehkan pisau itu ke ujung jempol kaki kirinya. Darah seketika mengalir ke atas sprei putih. Pangeran lalu berdiri menatap Putri Reina yang merintih menahan sakit.     

Pangeran Nizam tidak berkata sepatah pun. Ia mengambil air putih lalu membasahi tangannya oleh air tersebut kemudian mengusapkan ke mukanya. Masih dengan wajah dingin Ia menghampiri Putri Reina. Putri Reina menatapnya dengan perasaan sakit hati yang mendalam. Ketika darah dikakinya menetes ke atas sprei yang baru memahami apa yang sudah dilakukan suaminya.     

Tangan Pangeran Nizam terhulur ke atas bibir Reina lalu dengan beberapa usapan kasar Ia membuat lipstik di bibir Reina menjadi pudar warnanya. Seakan bibir itu baru saja dicium seseorang.     

Tangan Pangeran Nizam yang mengusap bibirnya dipegang erat-erat.     

"Mengapa yang Mulia melakukan ini semua pada hamba?" Isak Putri Reina.     

"Karena Aku tidak ingin menghianati cintaku?"     

"Sebesar itu kah cinta paduka pada wanita itu sampai harus menyakiti hamba seperti ini?"     

Pangeran Nizam menghela nafas panjang.     

"Andai Aku mengerti perasaanku sendiri. Di otak ku hanya tersimpan wajahnya. Aku sama sekali tidak bisa menyentuhmu disaat relung hatiku tersimpan namanya. Bercinta bagiku bukanlah sekedar luapan perasaan nafsu. Bercinta adalah curahan kasih sayang kita yang terdalam untuk orang yang kita cintai. Bagaimana mungkin Aku menyentuhmu tanpa perasaan cinta. Maafkan Aku Putri Reina."     

Pangeran Nizam berdiri dan hendak melangkah keluar.     

"Yang Mulia.." Putri Reina memanggil suaminya dengan hati tersayat. Pangeran Nizam menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.     

"Apa yang Mulia tidak takut hamba akan berbicara pada Ibunda Ratu Sabrina dan Ibundaku? Bahwa Yang Mulia samasekali tidak menyentuh hamba."     

"Istriku Putri Reina, Bukankah tadi Kamu hendak bunuh diri karena takut dibunuh oleh Paman Salman. Aku pikir Kamu tidaklah sebodoh itu, menceritakan apa yang terjadi diantara kita. Ingat!! sembunyikan luka di jarimu dan tanda suci di bawah lenganmu. Saat ini tanda itu tidak akan terlihat karena tersamar oleh bekas hisapanku. Sehingga ketika nanti Ibunda ku mengeceknya, tanda itu takkan terlihat karena tertutup warna merah bekas hisapanku. Tetapi jika nanti tanda hisapanku sudah memudar maka Kamu harus menyembunyikannya juga."     

Putri Reina menangis terisak-isak menatap suaminya yang pergi meninggalkannya. Seumur hidupnya belum pernah Ia merasa terhina seperti ini. Andaikan Ia boleh meminta Ia ingin tenggelam saja ke dalam bumi daripada terhina seperti ini.     


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.